Remote Working ala Praktisi PR Zaman Now

Apa bedanya bangun tidur zaman dulu dan sekarang? Dulu, bangun tidur buka jendela. Sekarang, bangun tidur buka aplikasi whatssapp. Disrupsi era digital saat ini memang merubah semua pola hidup dan kebiasaan kita dimulai sejak bangun tidur. Sebuah survei yang dilakukan oleh BMI Research awal tahun ini dalam acara Kemang Bicara memotret fenomena itu, terungkap bahwa Whatssapp (WA) menduduki peringkat tiga teratas dalam mempengaruhi konsumen untuk membeli produk, selain Facebook dan Instagram.

Berdasarkan data ComScore di Digitalmarketer.id saat ini terdapat sekitar 35,8 juta pengguna WA di Indonesia. Aplikasi layananan pesan ini digandrungi karrena bisa untuk chat dengan pengguna lainnya, tanpa biaya pesan teks SMS.

Hidup kita memang menjadi lebih ajaib dengan Whattsapp. Sisi baiknya penderita sulit tidur memiliki solusi produktif dengan mencolek WA Group dan menemui sesama penyulit tidur untuk berdiskusi. WA Group pun menjadi ruang meeting yang efektif saat ini, bahkan kadang tanpa mengenal waktu.

Pengalaman pribadi, sejak pagi WA pribadi dan WA Group sering sudah aktif dan minta segera ditanggapi. Kadang sampai jam 9 atau 10 pagi saya masih di depan laptop untuk menangggapi permintaan “SEGERA” dari klien agar mereka bisa segera membahasnya dalam rapat pagi. Setelah itu, barulah beres-beres dan berangkat ke kantor, berjuang menembus kemacetan, sehingga mungkin baru sampai kantor jam 1 siang.

Beberapa teman executive di PR Agency mengalami hal yang sama dengan saya. Dengan kondisi diatas akhirnya disepakati untuk bisa bekerja di depan laptop dari mana saja sejauh komitmen dijaga. Meeting pun tidak harus dikantor tapi mendekati dimana lokasi para tim kerja berada. Toh sekarang banyak co-working space, sewa ruang miting maupun café yang nyaman untuk bekerja.

Dengan situasi kerja seperti ini, banyak efisiensi yang didapat. Kualitas kerja bisa ditingkatkan karena lebih banyak waktu di depan laptop atau bertemu audiens untuk riset dan menyusun konsep dibandingkan menghabiskan waktu dijalan.

Gambaran situasi kerja diatas lumrah terjadi di beberapa perusahaan konsultan Public Relations, terutama di jajaran eksekutif-nya. Sedangkan supporting team yang terdiri dari tim konsultan, media monitoring, administrasi dan operasional harian tetap berlaku jam kerja pada umumnya. Jadilah remote working menjadi solusi. Dengan kehadiran teknologi maka fleksibilitas terjaga. Meski kehadiran tim yang lengkap dalam berkoordinasi tatap muka pasti dibutuhkan juga, paling minim seminggu sekali.

Pertanyaannya, apakah dengan kondisi tersebut perusahaan tetap bisa menjaga kualitas kerjanya? Mengapa tidak. Semua ini didukung oleh kondisi Win-Win situation, seperti yang disampaikan oleh Willian Arruda, tokoh personal branding yang mengatakan,“Teknologi telah memungkinkan kerja yang jauh lebih fleksibel. Itu yang dituntut para pekerja. Ini kondisi yang saling menguntungkan. Perusahaan mendapatkan talenta terbaik dan menghemat biaya fasilitas. Karyawan bekerja dengan ritme mereka (kapan mereka mau, kemana mereka mau), menghilangkan kerumitan dan biaya transportasi. Itu membuat karyawan lebih bahagia.”

Hasil riset Hubstaff pada pertengahan tahun lalu di Amerika Serikat tentang kebutuhan para pekerja dengan mewawancarai 2.060 profesional di usia 18 tahun ke atas mengatakan bahwa :

  • 61% setuju kolega kerja mereka yang berisik adalah perusak konsentasi terbesar.
  • 86% lebih memilih bekerja sendirian untuk mencapai produktifitas maksimal.
  • 40% mengakui miting dadakan dari teman sekerja mereka adalah gangguan utama.

Beberapa riset lainnya mengatakan bahwa fleksibilitas tinggi berdampak meningkatkan produktifitas hingga 35%. Namun syaratnya, remote working dapat terjadi hanya dengan fasilitas teknologi yang handal. Sehingga tak heran banyak perusahan teknologi informasi yang melihat peluang tersebut, seperti Brosix Instant Massanger yang melihat peluang pasar untuk melayani 60% pekerja di Amerika Utara yang menghendaki remote working.

Pemerintah Inggris melalui situs resminya ditahun lalu menyatakan kenaikan orang bekerja dari rumah atau remote working pada 1998 sebesar 2,9 juta orang dan pada 2014 meningkat menjadi 4,2 juta orang. Dari data tersebut ditemui 14.8% bekerja sebagai manager atau senior officials, 35.2% bekerja sebagai professionals atau associate professionals dan sisanya 23.5% bekerja sebagai skilled traders. Ini berarti bahwa hampir tiga perempat (73,4%) remote workers memiliki skill yang tinggi.

Maureen Lippe seorang founder dan CEO dari Lippe Taylor PR, sebuah PR Agency di New York, Amerika mengatakan pemilik perusahaan PR sepertinya harus mengevaluasi paket tunjangan, cuti untuk keluarga, dan kebijakan maternity. Mereka juga perlu lebih fleksibel mengenai jam kerja dan menerima fakta bahwa “9 to 5” sudah tidak lagi relevan untuk praktisi PR jaman now. Bagaimana dengan Anda?

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *